Kawah Ijen!
Yeah. Hal pertama kali yang saya bayangkan adalah danau air asam yang eksotik.
Memang benar! Kawah Ijen begitu cantik. Perjalanan ini merupakan solo travel saya yang pertama. Saya
memang berniat melakukan perjalanan sendiri karena lebih bebas, dan yang pasti
tidak ribet.
Jum’at 31
Januari 2014 saya memutuskan untuk berangkat mengunakan Bus menuju Bondowoso.
Sekitar jam 11.00 WIB saya berangkat dari terminal Arjosari Kota Malang. Saya
pikir ada bus yang langsung menuju Bondowoso. Ternyata memang ada tapi hanya
sekali jalan, dan saya tidak mendapatkan kesempatan itu. Akhirnya saya mendapat
rekomendasi dari seorang kondektur untuk naik P.O Ladju. Bus inilah yang
beroperasi dari Malang-Bondowoso, tapi karena saya tidak kebagian jatah bi situ
akhirnya dari malang saya menuju Probolinggo. Perjalanan dari Malang ke
Probolinggo sungguh menyenangkan, penumpang bis tidak begitu ramai, hanya
beberapa kursi yang terisi. Saya bersantai menikmati perjalanan sambil
mendengarkan kotak pemutar mp3 kecil yang menempel di kaos saya. Sekitar dua
jam perjalanan saya tempuh, kadang pak supir me-Ladju bagai kuda liar yang
sedang birahi mengejar betinanya. Perasaan was-was sempat meliputi perjalanan
tapi itu semua hanya bumbu dari perjalanan yang menyenangkan.
Tarif Bus dari
Malang – Probolinggo = Rp 16.000
Setibanya di
Probolinggo saya melanjutkan perjalanan menggunakan Bus AKAS. Ya Akas! Perjalanan
selanjutnya tidak se-Lega dari Malang – Probolinggo. Penumpang sangat padat.
Kebetulan hujan sangat deras, sesekali air hujan masuk melalui celah-celah
jendela bus tua itu. Seorang pemuda di sebelah saya bertanya “mau kemana mas?”
“mau ke bondowoso” jawabku. “bawaannya banyak banget mau mudik ya?” sambil
nyengir saya jawab “mau ke kawah Ijen mas” “ooo… mau camping ya”. Begitulah
percakapan singkat saya di bis.
Masih hujan
diluar sana. tak terasa sudah sampai PLTU Paiton. Sekilas saya teringat
perjalanan study tour saya waktu SMA ke Bali, saya pernah lewat jalan ini 8 th
silam. Pelakat bertulikan “JAWA POWER” Nampak gagah sekali. Tampak juga laut
Utara Jawa yang begitu tenang. Beberapa kilometer setelah melintas Paiton, saya
disuguhi pemandangan sawah yang menghampar hijau. Luar Biasa! Pegunungan kokoh,
Sungai-sungai kecil yang airnya tampak kecoklatan mengalir dengan derasnya. Oh
indah sekali negri ini.
Sampailah saya
di tanjkan Arak-arak. Tanjakan kecil nan curam. Pak Supir mengendalikan bis
dengan tenang, tampak sudah menjadi makanan sehari-hari jalur ini. Sesekali
klakson dibunyikan ketika melintasi tikungan, tanda kepada
pengemudi lain kami mau lewat! Hahaha.
Tanjakan ini hampir mirip tanjakan Pujon, Batu atau Tanjakan Bukit
Bintang di Gunungkidul.
Tarif Bus
Probolinggo – Bondowoso = Rp 16.000
Tepat pukul 16.30
an saya sampai di Bondowoso. Tepatnya di Kota Kulon, Gang Malabar. Seorang
teman sudah menunggu. Saya diajak mampir ke rumahnya. Niat awal saya hanya
ingin mampir dan singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos
Paltuding. Tapi ternyata saya di persilahkan menginap di rumahnya. Saya
berkenalan dengan seorang purnawirawan Angkatan Darat yang dulu selama 30th
bertugas di Malang. Pak Minto namanya. Seorang yang ramah, dan asik diajak
ngobrol. Setelah ngobrol ngalor-ngidul saya di Tanya maksud dan tujuan saya
datang ke Bondowoso. Ternyata jalan Tuhan begitu indah. Ketika saya bercerita
ingin menuju kawah Ijen, pak Minto menawarkan sebuah perjalanan gratis menuju
pos Paltuding. Dengan senang hati saya menerima tawaran menggiurkan itu.
Tepat pukul 12 malam
kami berangkat dari Bondowoso menuju Paltuding. Hujan deras yang mengguyur
daerah penghasil tape sore itu masih menyisakan tanah yang basah. Kabut tebal
menemani sepanjang perjalanan kami. Mobil pak Minto hanya melaju dengan
kecepatan 30Km/jam. Rupanya pak Minto belum pernah ke Paltuding sehingga masih
meraba-raba medan perjalanan kami. Sepertinya ada yang tidak beres dengan mobil
pak Minto. Benar sesampainya di pos penjagaan pertama, air radiator kering.
Beruntung ada mobil lain yang membantu kami mengatasi situasi ini. Saya hampir
frustasi, saya pikir saya gagal menuju Kawah Ijen.
Empat jam
sudah perjalanan kami. Tepat pukul 04.00 WIB, kami sampai di Pos Pendakian
Paltuding. Udara dingin, dan riuhnya percakapan pendaki lain mewarnai pagi itu.
Beberapa tenda berdiri di camp ground, semrawut mobil yang kurang rapi
terparkir. Jauh dari ekspektasi saya. Sebelum mendaki saya melapor dan membayar
retribusi menuju kawah ijen. Rp 15.000 untuk 5 orang dan satu kamera.
Ya… jauh dari
ekspektasi saya. Pendakian menuju puncak Ijen begitu ramah, dan tidak
berbahaya, bahkan ini bukanlah pendakian menurut saya. Ini adalah perjalanan
wisata hahaha. Memang banyak wisatawan local maupun dari berbagai Negara. Saya
sempat mengamati dari bahasanya mereka berasal dari India, jepang, China,
Korea, dan Prancis. Ramai sekali perjalanan menuju Kawah Ijen. Beberapa
penambang belerang juga berseliweran. Ada juga seorang yang mengalami Hipoksia
dan harus di evakuasi ke bawah oleh seorang porter di temani pacarnya yang
selalu mencoba mengajaknya bicara. Saya jadi teringat dengan evakuasi pendaki
semeru tahun baru 2014 kemarin. Kebetulan saya tim medis waktu itu. Beberapa
meter sebelum puncak saya melihat seekor kera berwarna keemasan, dan di
sekitarnya terdapat beberapa kera berwarna hitam. Saya jadi ingat film Sun Go
Kong :D
Dua jam sudah
perjalanan saya tempuh. Matahari sudah tinggi. Saya sedikit kecewa, karena
target sesungguhnya perjalanan kali ini adalah Blue Fire!. Tapi biarpun sedikit
kecewa saya tetap merasa puas. Rasa lelah terbayarkan oleh eksotisnya kawah
ijen. Sungguh luar biasa pemandangan danau air asam bersanding dengan asap
sulfur yang mengerikan. Dari atas saya dapat melihat beberapa pegunungan, dan
tampak padang rumput yang luas, orang-orang menyebutnya dengan bukit Teletubies.
![]() | ||
Bukit Teletubies dan pegunungan sekitar Ijen
|
Puas
berfoto-foto di atas, saya memutuskan untuk turun. Momen yang salah untuk
turun. Asap belerang sedang melintasi jalur pendakian. Sesak napas, batuk-batuk
ah sungguh menyiksa! Ternyata turun dari gunung Ijen lebih menyiksa dari pada
pendakiannya. Karena jalan menurun begitu curam dan berpasir saya harus
pelan-pelan dan pintar pintar nge-rem. Beberapa pendaki ada yang berlaru turun.
Beberapa orang menjajakan kerajinan dari belerang. kreatif sekali mereka ini,
mereka membuat nilai tambah dari belerang itu sendiri. Biasanya harga per
kilogram belerang di hargai Rp 600 mereka sulap potongan belerang menjadi
bentuk yang unik dan mereka jual Rp 5000 – 10.000. Great!!
Selesai sudah
pendakian saya. Lutut saya serasa mau lepas. Kebanyakan nge-rem. Hahaha. Sebelum
kembali ke malang saya menyempatkan berjalan-jalan di Bondowoso. Mencari oleh-oleh
dan mampir ke Stasiun Bondowoso yang sudah tidak aktif lagi. Dan akhirnya
pulang.







No comments:
Post a Comment