Friday, February 14, 2014

Ijen, Kawah Eksotis Panorama Fantastis

Kawah Ijen! Yeah. Hal pertama kali yang saya bayangkan adalah danau air asam yang eksotik. Memang benar! Kawah Ijen begitu cantik. Perjalanan ini merupakan solo travel saya yang pertama. Saya memang berniat melakukan perjalanan sendiri karena lebih bebas, dan yang pasti tidak ribet.

Jum’at 31 Januari 2014 saya memutuskan untuk berangkat mengunakan Bus menuju Bondowoso. Sekitar jam 11.00 WIB saya berangkat dari terminal Arjosari Kota Malang. Saya pikir ada bus yang langsung menuju Bondowoso. Ternyata memang ada tapi hanya sekali jalan, dan saya tidak mendapatkan kesempatan itu. Akhirnya saya mendapat rekomendasi dari seorang kondektur untuk naik P.O Ladju. Bus inilah yang beroperasi dari Malang-Bondowoso, tapi karena saya tidak kebagian jatah bi situ akhirnya dari malang saya menuju Probolinggo. Perjalanan dari Malang ke Probolinggo sungguh menyenangkan, penumpang bis tidak begitu ramai, hanya beberapa kursi yang terisi. Saya bersantai menikmati perjalanan sambil mendengarkan kotak pemutar mp3 kecil yang menempel di kaos saya. Sekitar dua jam perjalanan saya tempuh, kadang pak supir me-Ladju bagai kuda liar yang sedang birahi mengejar betinanya. Perasaan was-was sempat meliputi perjalanan tapi itu semua hanya bumbu dari perjalanan yang menyenangkan.

Tarif Bus dari Malang – Probolinggo = Rp 16.000

Setibanya di Probolinggo saya melanjutkan perjalanan menggunakan Bus AKAS. Ya Akas! Perjalanan selanjutnya tidak se-Lega dari Malang – Probolinggo. Penumpang sangat padat. Kebetulan hujan sangat deras, sesekali air hujan masuk melalui celah-celah jendela bus tua itu. Seorang pemuda di sebelah saya bertanya “mau kemana mas?” “mau ke bondowoso” jawabku. “bawaannya banyak banget mau mudik ya?” sambil nyengir saya jawab “mau ke kawah Ijen mas” “ooo… mau camping ya”. Begitulah percakapan singkat saya di bis.

Masih hujan diluar sana. tak terasa sudah sampai PLTU Paiton. Sekilas saya teringat perjalanan study tour saya waktu SMA ke Bali, saya pernah lewat jalan ini 8 th silam. Pelakat bertulikan “JAWA POWER” Nampak gagah sekali. Tampak juga laut Utara Jawa yang begitu tenang. Beberapa kilometer setelah melintas Paiton, saya disuguhi pemandangan sawah yang menghampar hijau. Luar Biasa! Pegunungan kokoh, Sungai-sungai kecil yang airnya tampak kecoklatan mengalir dengan derasnya. Oh indah sekali negri ini.

Sampailah saya di tanjkan Arak-arak. Tanjakan kecil nan curam. Pak Supir mengendalikan bis dengan tenang, tampak sudah menjadi makanan sehari-hari jalur ini. Sesekali klakson dibunyikan ketika melintasi tikungan, tanda kepada pengemudi lain kami mau lewat! Hahaha.  Tanjakan ini hampir mirip tanjakan Pujon, Batu atau Tanjakan Bukit Bintang di Gunungkidul.

Tarif Bus Probolinggo – Bondowoso = Rp 16.000

Tepat pukul 16.30 an saya sampai di Bondowoso. Tepatnya di Kota Kulon, Gang Malabar. Seorang teman sudah menunggu. Saya diajak mampir ke rumahnya. Niat awal saya hanya ingin mampir dan singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos Paltuding. Tapi ternyata saya di persilahkan menginap di rumahnya. Saya berkenalan dengan seorang purnawirawan Angkatan Darat yang dulu selama 30th bertugas di Malang. Pak Minto namanya. Seorang yang ramah, dan asik diajak ngobrol. Setelah ngobrol ngalor-ngidul saya di Tanya maksud dan tujuan saya datang ke Bondowoso. Ternyata jalan Tuhan begitu indah. Ketika saya bercerita ingin menuju kawah Ijen, pak Minto menawarkan sebuah perjalanan gratis menuju pos Paltuding. Dengan senang hati saya menerima tawaran menggiurkan itu.

Tepat pukul 12 malam kami berangkat dari Bondowoso menuju Paltuding. Hujan deras yang mengguyur daerah penghasil tape sore itu masih menyisakan tanah yang basah. Kabut tebal menemani sepanjang perjalanan kami. Mobil pak Minto hanya melaju dengan kecepatan 30Km/jam. Rupanya pak Minto belum pernah ke Paltuding sehingga masih meraba-raba medan perjalanan kami. Sepertinya ada yang tidak beres dengan mobil pak Minto. Benar sesampainya di pos penjagaan pertama, air radiator kering. Beruntung ada mobil lain yang membantu kami mengatasi situasi ini. Saya hampir frustasi, saya pikir saya gagal menuju Kawah Ijen.

Empat jam sudah perjalanan kami. Tepat pukul 04.00 WIB, kami sampai di Pos Pendakian Paltuding. Udara dingin, dan riuhnya percakapan pendaki lain mewarnai pagi itu. Beberapa tenda berdiri di camp ground, semrawut mobil yang kurang rapi terparkir. Jauh dari ekspektasi saya. Sebelum mendaki saya melapor dan membayar retribusi menuju kawah ijen. Rp 15.000 untuk 5 orang dan satu kamera.

Ya… jauh dari ekspektasi saya. Pendakian menuju puncak Ijen begitu ramah, dan tidak berbahaya, bahkan ini bukanlah pendakian menurut saya. Ini adalah perjalanan wisata hahaha. Memang banyak wisatawan local maupun dari berbagai Negara. Saya sempat mengamati dari bahasanya mereka berasal dari India, jepang, China, Korea, dan Prancis. Ramai sekali perjalanan menuju Kawah Ijen. Beberapa penambang belerang juga berseliweran. Ada juga seorang yang mengalami Hipoksia dan harus di evakuasi ke bawah oleh seorang porter di temani pacarnya yang selalu mencoba mengajaknya bicara. Saya jadi teringat dengan evakuasi pendaki semeru tahun baru 2014 kemarin. Kebetulan saya tim medis waktu itu. Beberapa meter sebelum puncak saya melihat seekor kera berwarna keemasan, dan di sekitarnya terdapat beberapa kera berwarna hitam. Saya jadi ingat film Sun Go Kong :D


Kera Berbulu Emas Ijen
Dua jam sudah perjalanan saya tempuh. Matahari sudah tinggi. Saya sedikit kecewa, karena target sesungguhnya perjalanan kali ini adalah Blue Fire!. Tapi biarpun sedikit kecewa saya tetap merasa puas. Rasa lelah terbayarkan oleh eksotisnya kawah ijen. Sungguh luar biasa pemandangan danau air asam bersanding dengan asap sulfur yang mengerikan. Dari atas saya dapat melihat beberapa pegunungan, dan tampak padang rumput yang luas, orang-orang menyebutnya dengan bukit Teletubies.


Bukit Teletubies dan pegunungan sekitar Ijen

Penambang Belerang





Puas berfoto-foto di atas, saya memutuskan untuk turun. Momen yang salah untuk turun. Asap belerang sedang melintasi jalur pendakian. Sesak napas, batuk-batuk ah sungguh menyiksa! Ternyata turun dari gunung Ijen lebih menyiksa dari pada pendakiannya. Karena jalan menurun begitu curam dan berpasir saya harus pelan-pelan dan pintar pintar nge-rem. Beberapa pendaki ada yang berlaru turun. Beberapa orang menjajakan kerajinan dari belerang. kreatif sekali mereka ini, mereka membuat nilai tambah dari belerang itu sendiri. Biasanya harga per kilogram belerang di hargai Rp 600 mereka sulap potongan belerang menjadi bentuk yang unik dan mereka jual Rp 5000 – 10.000. Great!!

Macak Pengembara

Selesai sudah pendakian saya. Lutut saya serasa mau lepas. Kebanyakan nge-rem. Hahaha. Sebelum kembali ke malang saya menyempatkan berjalan-jalan di Bondowoso. Mencari oleh-oleh dan mampir ke Stasiun Bondowoso yang sudah tidak aktif lagi. Dan akhirnya pulang.







No comments:

Post a Comment